This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 18 Februari 2014

Tidak terdaftar Tapi Lulus CPNS

eng.......ing.......eng.........!!
ada kabar mengejutkan dari penerimaan CPNS K2 ini.hehe

Tidak Terdaftar Peserta, Lulus Honorer K2
Selasa, 18 Februari 2014

SAMPIT – Kejanggalan terjadi dalam pengumuman kelulusan honorer kategori (K2). Dua peserta yang diduga tidak terdata sebegai peserta, tiba-tiba dinyatakan lulus dalam pengumuman seleksi tes tertulis. Sontak, kejadian ini menimbulkan reaksi para peserta yang tidak lulus.

Guru SMKN 1 Pulau Hanut Al Gamik, mengatakan kedua peserta yang lulus tersebut satu sekolah dengan dirinya. Peserta berinisial AW dan SW tersebut diakuinya baru mengajar di SMKN 1 Pulau Hanaut tahun 2011.

Keduanya, kata Al Gamik, tidak terdaftar sebagai honorer K2 yang masuk database. Tapi tiba-tiba dinyatakan lulus setelah ujian tertulis.

Bahkan, lanjutnya, berdasarkan berkas pendataan honorer K2 yang dikeluarkan oleh pihak sekolah pada 11 Oktober 2010 dan ditandatangani kepala sekolah yaitu Rasyidi, hanya ada tiga guru yang terdaftar. Salah satunya dirinya dan dua orang rekannya. Sementara AW dan SW tidak termasuk di dalamnya.

“Persyaratan honorer K2 ini kan dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2010 sedangkan yang bersangkutan baru mengajar di SMK Negeri 1 Pulau Hanaut tahun 2011. Sebelumnya tidak pernah menghonor atau mengajar,” ungkap Al Gamix saat bertandang ke Redaksi Radar Sampit (JPNN Grup), Senin siang (17/2).

Ditambahkan Al Gamix, telah terjadi manipulasi terlihat dari bukti mengajar kedua guru bersangkutan. Dalam data tersebut disebutkan keduanya telah mengajar di SMKN 1 Pulau Hanaut sejak tahun 2001, padahal SMK Negeri 1 Pulau Hanaut baru berdiri pada tahun 2004.

“Kami punya saksi-saksinya, bahkan tahun 2008 yang bersangkutan masih bekerja di perkebunan sawit sebagai petugas administrasi. Ini yang bikin kami kecewa, sebagai orang yang lama kami diinjak-injak,” keluhnya.

Gamix mengungkapkan, pihaknya sudah mempunyai bukti-bukti yang mengarah bahwa keduanya telah melakukan pemalsuan data. Bahkan sejumlah orang yang mengetahui mengenai data siluman tersebut, siap untuk menjadi saksi.

Kasus dugaan pemalsuan data ini telah disampaikannya ke UPTD Disdik setempat dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kotim. Hanya saja sampai sekarang belum mendapatkan jawaban.


sumber: dukung forum honorer indonesia

Sabtu, 15 Februari 2014

KASMARAN BERMATEMATIKA

ketika bertanya kepada anak didik tentang pelaaran yang paling sulit bahkan dibenci, pasti sebagian besar menjawab pelajaran MATEMATIKA. betul? ^_^
hal ini dirasakan juga oleh saya ketika mengajar matematika di sekolah dasar, ada kemungkinan anak didik saya membenci pelajaran matematika bahkan sampai ke guru matematikanya hehe....... alhamdulillah saya dipertemukan dengan program SM-3T dan mendapat bonus PPG (Pendidikan Profesi Guru).
dari sini saya mendapat wawasan baru tentang Pembelajaran, khususnya matematika yang dianggap sulit menjadi Kasmaran (sepperti orang jatuh cinta,hehe)

baik kawans smoga tulisan ini dapat mengubah kita menjadi Kasmaran Bermatematika^_^
oleh: Iwan Pranoto

Dimuat di Kompas, 26 Desember 2013
Sekitar 10 tahun lampau kami beberapa dosen matematika (Hendra Gunawan, Koko Martono, dan saya) diminta oleh Balitbang Kemdikbud untuk mengkaji hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) 2000. Walau hasil siswa RI dalam PISA pertama itu di peringkat ke-39 dari 41 negara peserta – hanya lebih baik dari Peru dan Brazil – namun sama sekali tak mengejutkan kami. Ini karena kami menyadari soal di PISA menguji kemampuan bernalar. Malah hasil itu mendukung pendapat awal kami bahwa pendidikan matematika di tingkat dasar dan menengah tak tanggap beradaptasi dengan kehidupan modern.
Memang keilmuan matematika tetap sama, tetapi perannya dalam kehidupan telah berubah drastis. Siswa di negara lain belajar kecakapan bermatematika dengan mempertimbangkan ketersediaan teknologi dalam kehidupan. Sementara pendidikan matematika di tanah air ini masih membayangkan kehidupan sebelum ada kalkulator dan komputer. Di kita masih menekankan pada ketrampilan rutin berpikir tingkat rendah semata seperti menghafal rumus dan mematuhi prosedur berhitung yang dirumit-rumitkan. Pada saat yang sama, pembangunan ketrampilan tak rutin seperti berpikir kritis yang tak dapat dikerjakan mesin justru diabaikan.
Di Balitbang pada tanggal 14 Januari 2004, kami sampaikan hasil kajian terhadap PISA 2000 dan rekomendasinya. Rekomendasinya memuat antara lain peningkatan profesionalisme guru matematika dan membangun budaya bernalar di kelas. Namun, setelah satu dekade lewat, dari data PISA 2012 dan Trends in International Mathematics and Science Study TIMSS 2011, mutu pembelajaran matematika di republik ini tak kunjung membaik. Di tahun 2000, saat Brazil di bawah Indonesia, sekarang sudah melejit ke atas. Jika kendala geografi Indonesia yang dipersalahkan, apakah Brazil tak lebih ganas lagi keadaan negerinya?
Makna Hasil
Memang, informasi peringkat RI di PISA atau TIMSS menghebohkan, namun sesungguhnya tak guna memasalahkannya. Dari pemeringkatan tersebut tak dapat diketahui jenis kelemahan siswa kita. Lebih berguna jika melakukan kajian soal per soal, agar diketahui kecakapan apa yang kurang dan perlu dibenahi.
Kecuali itu, juga perlu dicatat bahwa semua tes pendidikan punya kekurangan dan kelebihan, termasuk PISA dan TIMSS, walaupun sudah diimplementasikan dengan taraf profesionalitas yang begitu tinggi [1]. Tak pernah ada tes pendidikan yang sempurna dapat mengukur ragam dimensi sekaligus. Apalagi Ujian Nasional yang disiapkan dengan tak profesional dan diimplementasikan dengan penuh kekacauan.
Dua tes internasional itu berbeda, walau sama-sama menguji matematika. PISA menekankan penerapan, sedang TIMSS lebih pada penguasaan konsep. Dari dua hasil tes ini, dapat ditafsirkan dua pesan yang berbeda ranah, namun saling melengkapi.
Hasil buruk di PISA tidak serta-merta berarti kurikulum kita buruk. Juga tak dapat disimpulkan bahwa konsep yang diujikan belum diajarkan. Sebenarnya, Standar Isi, maupun KTSP sudah mencakup semua konsep di PISA, sebelum kelas 8. Tes PISA mengukur kemampuan siswa mengembangkan kecakapan yang diperoleh di kelas, dengan menerapkannya dalam situasi sehari-hari. Artinya, hasil PISA buruk ini mengatakan bahwa siswa kita lemah dalam menerapkan apa yang dipelajari di sekolah pada konteks yang baru.
Namun, berbeda dengan PISA, dari hasil buruk TIMSS memang dapat diartikan kurikulum matematika kita perlu perbaikan. Dan, rekomendasi penguatan kurikulum yang lebih menekankan pernalaran dan pemecahan masalah ini sudah direkomendasikan antara lain oleh  Frederick K.S. Leung dari University of Hong Kong pada tanggal 21 Desember 2006. Namun, menurut Ahmad Muchlis, bahkan Kurikulum 2013 serta buku-ajarnya pun belum juga menggarap kecakapan berpikir tingkat tinggi (Media Indonesia, 16 Des 2013).
Pokok masalahnya bukan karena pengetahuan belum diajarkan, tetapi justru karena fokus pada pemindahan pengetahuan dan mengabaikan pembangunan kecakapan berpikir deduktif. Ini dikarenakan kurangnya penguasaan guru pada kecakapan bermatematika. Dampaknya, pembelajaran tak dapat menyediakan pengalaman kebermatematikaan yang penuh makna, tetapi sekedar penyampaian fakta nirmakna. Akibatnya, tak akan ada penumbuhan kecakapan bernalar.
Ini ditambah lagi, sistem UN matematika yang menekankan kecakapan berhitung rumit tetapi berpikir tingkat rendah. Ini membuat siswa kita mengejar kecakapan usang yang sangat berbeda dibanding kawan-kawan sebayanya di negara lain. Di negara lain, bahkan di banyak negara Asia, pendidikan matematikanya sudah memberikan pengalaman bermatematika yang melibatkan berpikir tingkat tinggi, tetapi dengan perhitungan sederhana. Karena, pikirnya, toh di kehidupan modern ini sudah tersedia kalkulator yang murah untuk menghitung, namun mesin belum mampu menggantikan manusia dalam bernalar. Komputer belum mampu mengerjakan pemodelan matematika, seperti menyarikan masalah matematika dari soal cerita.
Membenahi
Sesungguhnya untuk membenahinya yang paling strategis adalah merombak kurikulum program penyiapan guru matematika serta program pengembangan profesinya. Porsi pendalaman konsep matematika dalam persiapan guru matematika di S1 dan juga S2 harus dilipatgandakan. Yang utama, berbagai program yang dirancang perguruan tinggi harus mampu membangun kasmaran bermatematika para guru.
Kasmaran bermatematika adalah keadaan saat seseorang melakukan kegiatan yang melibatkan matematika secara total. Ego, lingkungan, dan waktu melebur luruh ke dalam kegiatannya. Oleh pakar psikologi positif Csíkszentmihályi Mihály keadaan ini diistilahkan sebagai flow. Khusus dalam bermatematika, keadaan ini ditandai tumbuhnya sikap “keusilan” matematika, seperti ketagihan mengutak-utik masalah matematika, ingin tahu, skeptis sekaligus gigih, dan juga memiliki tanggungjawab belajar. Guru yang kasmaran bermatematika akan menyuburkan budaya bernalar di dalam kelas dan sukacita akan kembali menyeruak di dalam pembelajaran matematika.
Pembenahan pendidikan bagi guru matematika tak dapat digantikan dengan berbagai proyek mercusuar. Sebaiknya Indonesia menyimak strategi yang diterapkan Estonia dan Vietnam. Dua negara itu melakukan pembenahan pendidikan dengan prinsip yang mendasar kokoh. Keberhasilan upaya dua negara itu telah diindikasikan di PISA 2012. Sementara Estonia berhasil menyalip Finlandia, Vietnam menyalip Australia dan Inggris.
Program S2 Matematika untuk guru di Universitas Harvard percaya bahwa guru matematika yang baik memiliki dua unsur utama: menguasai matematika dan bergairah mengajar [2]. Di program S2 untuk guru matematika di ITB, hal ini jadi pegangan utama. Menguasai matematika harus jadi dasar utama seorang guru matematika. Tentunya, apa gunanya seseorang menguasai cara mengajar menyanyi, padahal dirinya belum piawai bernyanyi. Apa gunanya seseorang menguasai cara mengajar Bahasa Inggris, padahal dirinya belum cakap berbahasa Inggris. Nantinya, malah dapat terjadi seseorang mampu mengajarkan dengan baik matematika yang salah.
Sebagai tambahan rekomendasi, sebaiknya pemerintah mendatang merancang program pengembangan profesi guru matematika yang memanfaatkan teknologi kuliah daring terbuka. Tampaknya hanya ini satu-satunya cara kita dapat memberikan pelatihan bagi guru-guru di daerah terpencil dan sulit dicapai. Harus diupayakan pelatihan guru berbasis ponsel cerdas, pocket-based training. Para guru tak perlu meninggalkan sekolahnya untuk mengembangkan profesinya. Dengan cara ini, pelatihan dapat dilakukan secara rutin, bahkan jika guru membutuhkan bantuan dapat langsung mendiskusikan secara waktu nyata dengan guru lain serta pakar langsung. Cara ini pun yang paling murah. Hanya sekarang Depkominfo yang harus meyakinkan pembangunan infrastruktur Internet terwujudkan segera.
Paradigma melenceng seperti belajar dan mengajar untuk ujian, apalagi untuk UN yang bermutu rendah itu, harus dihentikan. Jika kita menjunjung pendidikan karakter, logikanya paradigma tadi digeser menjadi sukacita belajar.
Ancaman
Jika kecakapan bermatematika siswa kita rendah terus, bangsa ini akan menanggung beban berat. Lupakan saja segala impian inovasi teknologi, perkembangan industri, perkembangan pengetahuan ilmiah, dan kekuatan ekonomi. Era ini telah menunjukkan bahwa ketrampilan warga, ketersediaan lapangan pekerjaan, dan pembangunan negara saling terkait erat.
Namun, bukan itu saja. Yang lebih menyeramkan justru terancamnya keselarasan sosial yang didasarkan pada intelektualitas. Bukankah kerusuhan sosial, perilaku merusak, sikap tak menghargai perbedaan, dan ketakpatuhan pada hukum yang terjadi sekarang hanya mungkin karena rendahnya budaya bernalar? Berbagai ketakselarasan sosial sekarang ini adalah denda yang harus kita bayar karena telah mengasingkan pendidikan bernalar begitu lama. Dapat dibayangkan bagaimana ancaman kacaunya keadaan tahun 2045 nanti, saat jumlah warga berusia produktif sangat banyak tetapi mereka tak punya ketrampilan sekaligus tak tersedia lowongan pekerjaan bagi mereka, jika strategi pendidikan nasional tak kunjung tepat sasaran. Jenis pekerjaan berkecakapan-rendah-bergaji-cukup telah semakin langka.
Sudah terjadi, ada negara yang dahulu digadang-gadang dikatakan akan memiliki demographic dividend (bonus demografi), tetapi karena tak terdidik baik, sekarang jumlah pengangguran dan tingkat kejahatan malah tinggi [3]. Bonus demografi bukan lah kekuatan, tetapi baru peluang. Dan, jika tak mampu menyediakan pendidikan bermutu, ini malah dapat menjadi ancaman demografi.
Kehidupan bangsa yang cerdas membutuhkan suburnya budaya bernalar. Dan, selain melalui membaca buku seperti yang diutarakan Tati D. Wardi (Kompas, 14 Des 2013), pembelajaran matematika di pendidikan dasar sangat strategis guna menyuburkan budaya bernalar.
Oleh karenanya, guru matematika sekarang memainkan peran besar dalam merekacipta kehidupan bangsa di masa depan. Melalui pemikiran, keringat, sekaligus air mata guru, kita mengharapkan terwujudnya kehidupan bangsa yang cerdas.

sumber: bincang edukasi

Jumat, 14 Februari 2014

Tak Semua jadi PNS

Tak Semua CPNS yang Lulus Jadi PNS
Jumat, 14 Februari 2014

Hasil kelulusan pegawai Kategori II akan diverivikasi ulang oleh Badan Kepegawaian Nasional (BKN). Jumlah pegawai yang dinyatakan lulus kemungkinan tidak semuanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Hal itu menyusul adanya dugaan pemalsuan dokumen pegawai Kategori II, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Purwakarta memastikan kedepan ada ferivikasi ulang dari BKN.

"Ada tim verivikasi dari Jakarta. Yang dinyatakan lulus belum tentu jadi PNS, karena ada verivikasi, kita tidak diberi kewenangan," kata Kepala BKD Purwakarta, Fajar Sidik saat ditemui Pasundan Ekspres (JPNN Grup) di Kantor BKD, Kamis (13/2).

Sementara terkait dugaan dokumen palsu K II, kata Fajar, hal itu diserahkan di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Karena BKD hanya menyerahkan berkas administrasi saja ke Kemen PAN-RB.

"Kalau rekomendasi atasan kita percaya saja itu, memang Jakarta saja yang menentukan. Seperti yang terjadi di K1," ujarnya.

Ditegaskan Fajar, BKD hingga saat ini belum menerima surat pemberitahuan. Pasalnya pemberitahuan langsung ditujukan ke Pembina Kepegawaian.

Awalnya, dari sekitar 1.600 peserta CPNS K II, kemungkinan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) akan menarik 50 pegawai saja. Namun, ternyata perkiraan tersebut meleset, karena jumlah yang dinyatakan lulus malah lebih banyak.

"Itu K2 semuanya mendaftar dan diperbolehkan ikut, yang lulus passing grade ternyata banyak. Walaupun bupati minta 50 tapi karena yang lulus segitu kita ikuti saja," jelasnya.

Karena ada penambahan pegawai, diperkirakan belanja rutin pegawai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan membengkak. Jika tahun lalu (2013) belanja rutin pegawai mencapai Rp700 miliar, tahun depan diperkirakan akan semakin membengkak.

"Gaji nanti kekurangannya mengajukan ke pusat, hanya realisasinya terlambat atau tidak itu urusan Jakarta," katanya.

Terkait itu Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Amarta, Tarman Sonjaya mengatakan, pihaknya menduga permainan kelulusan pegawai K-2 terjadi sejak awal. Diduga dilakukan oleh oknum di lingkungan dinas pegawai bekerja dan dilingkungan BKD yang melakukan entri data pegawai.

"Ini kemungkinan ada yang memainkan lolosnya pegawai yang belum layak masuk K-2, oknumnya bisa di dinas bisa juga di BKD," pungkasnya.


sumber: DUKUNG FORUM HONORER INDONESIA

Kamis, 13 Februari 2014

Guru harus PPG dulu

hmmmmmm sudah lama gak posting nih......
soalnya kuota internetnya habis hehe^^

ohya terlepas dari pro dan kontra tentang GURU WAJIB MENGIKUTI PPG kita liat saja perkembanganya, ok. hehe^^

BENGKULU -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mewajibkan seluruh guru untuk mengikuti pendidikan profesi guru (PPG). Hal itu akan secara otomatis dibarengi pemberian gelar profesi kepada guru yakni title Gr. Gelar profesi itu menambah panjang gelar akademik sebelumnya, yakni SPd.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh mengatakan pemberian gelar profesi guru itu terjadi setelah yang bersangkutan lulus PPG.  Namun ditekankan olehnya yang paling penting dari PPG ini adalah pendalaman ilmu yang dimiliki calon guru. Sebab menurutnya, seorang S.pd masih belum bisa disebut sebagai guru sebelum lulus dari PPG dan sertifikasi guru nanti. Sehingga, seluruh S.pd diwajibkan mengenyam kembali bangku kuliah sebelum terjun menjadi guru.
"Sama seperti lulusan kedokteran. Gelarnyakan S.ked (gelar akademik, red), itu mereka masih belum boleh nyuntik. Makanya,mereka harus mengambil pendikan profesi biar jadi gelar dr (gelar profesi) di depan. Sama, guru kan juga profesi seperti dokter," tutur Nuh kemarin.
Dalam PPG nanti, bahan ajar yang akan diberikan akan lebih terfokus pada praktek mengajar. Hal ini diharapkan bisa memperbaiki praktek mengajar guru yang ada di Indonesia. Dengan Lama PPG pun akan disamakan dengan pendidikan profesi lainnya, yakni 1-2 tahun.
Sementara untuk guru-guru S.pd yang ada saat ini, Nuh akan memberikan waktu untuk proses penyesuaian. "Yang udah ngajar kita akan kasih waktu," tandasnya

setelah mengikuti PPG maka guru akan diberi gelar tambahan yaitu gelar "Gr" dibelakang nama. (baca selengkapnya klik di sini)

sumber: jppn

KLIK SAJA :)

Postingan Populer